Traveller, Imigrasi Jedah, dan Umroh

Banyak yang mengazamkan diri “Tidak akan berpergian ke luar negeri sebelum Umroh atau Berhaji”. Itu terjadi ketika saya mengajak beberapa teman untuk melakukan #edutravelling. Saya sendiri tak pernah mempunyai azam seperti itu. Saya mungkin tipe orang realitis dengan nalar logika lebih dominan daripada perasaan dan idealisme. Apa yang datang duluan ya saya kerjakan.

Perjalanan luar negeri pertama saya bukan ke Arab Saudi buat Umroh, tapi ke Thailand buat studi banding penerapan pendidikan lingkungan, terjadi tahun 2013, sebelumnya tidak pernah melakukannya, alasannya “3 anak saya kecil-kecil agak berabe bawa anak-anak kecil melakukan perjalanan” Selanjutnya ke Malayasia buat menghadiri seminar internasional selanjutnya sejak tahun 2013 hampir tiap tahun ke Jepang sebagian besar karena pekerjaan pada proyek pengembangan pendidikan lingkungan yang didanai lembaga sponsor dari Jepang, perjalanan dinas ke Jepang hampir tidak pernah dilakukan di musim semi dan selalu dilakukan ke Kota yang sama Tokyo dan Toyama, karena memang proyek kerjasamanya dengan universitas di kedua kota ini juga. Pada akhirnya dengan kocek sendiri saya dan adik saya berdua saja menikmati indahnya sakura di Kyoto Jepang. Wah….. jadi perjalanan yang tak terlupakan.

Perjalanan lain yang merogoh kocek saya eh salah deh inimah merogoh kocek suami adalah perjalanan ke Korea Selatan. Hahaha ini perjalanan yang unik karena semuanya ibu-ibu. Sebagaian besar isteri2 yang suaminya punya jabatan. Suami agak ragu ketika meminta saya melakukan perjalanan ini, karena itu artinya saya harus ambil cuti dari kantor, mana mungkin dapat surat tugas untuk acara jalan-jalan seperti ini, tambah lagi pekerjaan kantor kadang gak bisa ditinggal. Untungnya perjalannya pada akhir Januari, penilaian akhir semester sudah beres, laporan BKD juga sudah beres, saya akhirnya oke-oke aja.

Dengan pengalaman perjalanan itu baru November 2019 berkesempatan umroh. Umroh ini hadiah bagi suami yang berprestasi dari Propinsi Jabar. Mereka membolehkan mengajak pasangan, asal ongkos pasangan yang diajak dibayarin sendiri, propinsi hanya memberikan pada 1 individu yang berprestasi. Proses “bisa umroh mengunjungi kabah dan beribadah sebagai sebuah takdir” keyakinan itu saya dapatkan pada pengalaman ini. Ketika mendapatkan undangan ini, pada awalnya saya oke karena saya lihat tanggal bisa tak ada agenda. Tetapi tiba-tiba ada kabar bahwa dimajukan di tanggal 5 November…. padahal tanggal 7 November saya ngisi acara ke Palembang. Acara seminar nasionalnya tentu gak bisa cancel lagi. Poster sudah tersebar dengan foto saya hehehe. Akhirnya saya bilang sama suami ya udah, kayaknya kalau tanggal itu gak mungkin bisa berangkat karena ada acara yang gak mungkin bisa saya batalkan. “What saya membatalkan umroh, demi memenuhi janji, galau iya saya juga waktu itu, tapi gak apalah saya pikir janji itu lebih penting” Setelah bertekad begitu, ternyata ada kabar lagi bahwa kepergian UMROH nya diundur sampai tanggal 19 November untuk memberi ruang bagi jamaah yang akan pergi mengurus paspor, karena ternyata tidak semua jamaah sudah punya paspor. Alhamdulillah, memang rezeki dan takdir Alloh akhirnya saya bisa ikut UMROH juga.

Nah, sampai di bandara Jeddah. Peserta umroh banyak dari Indonesia. Hal yang menarik saat di imigrasi bandar King Abdul Azis ini, waktu yang diperlukan untuk mengecek seseorang di imigrasi itu lama sekali, 10 menitan saya hitung. Tibalah giliran saya, petugasnya ngecek, kemudian dia tersenyum ramah, gak sampai 1 menit selesai, begitu juga suami. Saya amati dan saya wawancara jamaah yang lama “Umroh ini perjalanan ibu pertama kali ke luar negeri? Jawabannya YA. Yang cepat pemeriksaannya “Sudah pernah berangkat ke mana saja” Dari wawancara kecil saya sambil menunggu rombongan jamaah saya lengkap akhirnya saya memperoleh kesimpulan, “Apa yang menyebabkan durasi berbeda ini?” Ternyata “Bagi mereka yang sudah pernah berpergian ke luar negeri durasi pengecekannya lebih cepat dibanding yang baru pertama kali ke luar negeri melalui umroh ini

Itulah benefit yang didapatkan dari seringnya melakukan traveller ke luar negeri sebelum umroh. Kalau ada yang berazam melakukan traveler ke luar negeri setelah berhaji. Ini harus dipikirkan lagi deh! Ceritanya, Kami menekadkan diri Haji ketika melihat anak2 sudah tumbuh besar dan bisa ditinggal secara mandiri, karena haji ini memakan waktu 40 hari gak mungkin meninggalkan anak kecil ke tetangga. Akhirnya 2017 anak bungsu mau masuk SMA baru berani lunasi semuanya, dan itu memang saya nabung juga, kalau ada kelebihan dari ngisi-ngisi acara dan nulis buku saya tabung. Saya tak berani ambil dana talangan haji atau apapun namanya, karena saya pikir itu tadi, saya akan siap pergi kalau anak sudah besar. Ternyata ya waktu tunggu haji untuk Kota Bogor itu 15 tahun. Hoooooooo jadi pas saya daftar 2017 kemungkinan berangkatnya 2032 karena pandemik ini maka kemungkinan saya berangkat berarti 2034 pas tahun itu umur saya udah 63 tahun. Entahlah, sekali lagi… Haji ini juga rangkaian dari Takdir Alloh, kalau ternyata Alloh mempercepat, sebelum saya uzur dan banyak menyusahkan orang lain, itu lebih baik. Jadi yakin aja sama takdirNya. Untuk hal ini Saya tidak ‘ngoyo’. Yang belum dapat berhaji sampai tahun ini, juga semoga alloh menyehatkan dan menguatkan kita, menyampaikan usia kita sehingga bisa berhaji dengan sehat dań kuat.

Bagaimana Kegiatan di Sekolah Jepang?

Tulisan ini merupakan rangkuman kegiatan kunjungan ke Jepang dari tahun 2014 sampai dengan 2020 bersama Indonesia Education Promoting Foundation (IEPF) yang berdiri di Kota Toyama Jepang, dengan dukungan dari JICA (Japan International Cooperation Agency).

Peserta Training Pendidikan LIngkungan 19-26 Januari 2020 Berfoto di depan Meijiro University setelah Kuliah Umum tentang Aktifitas Volenter Oleh Bapak Yasu Kuboki Presiden Indonesia Education Promoting Foundation

Sekolah di Toyama Jepang rerata masuk jam 8.00. Pada Jam 8.15 memulai pembelajaran di kelas.

Jam 8.15-8.45 dimulai dengan kegiatan pagi (朝のかつごう). Yang terdiri dari Pengamatan Kesehatan (健康観察、けんこうかんさつ), morning meeting (朝の会), pengumuman aktifitas belajar apa saja hari ini (学きゅうかつごう). Lihat di sini “Kegiatan Pagi SD Jepang

Jam 8.45 mulai pembelajaran mata pelajaran. Mata pelajaran untuk tingkatan SD ada 1. Pembelajaran Moral, 2. Matematika, 3. IPA, 4. IPS, 5. Home Economics (PKK, seperti memasak, menjahit, dan kerumah tanggan), 6. Hastakarya dan senirupa, 7. Pembelajaran integrasi, 8. Bahasa Nasional (Jepang), 8. Olah raga. Satu jam pembelajaran di Jepang 45 menit. Ada waktu 5 menit untuk peralihan antar mata pelajaran.

Pada pukul 10.20-10.40 ada jam berteman baik (なかよしタイム). Pada jam ini anak istirahat bermain bersama teman-temannya. Berdasarkan pengamatan penulis di sekolah dasar, pada jam ini area sekolah dibagi untuk bermain kelas rendah dan kelas tinggi, guru juga tetap mengawasi anak saat bermain, hal ini dilakukan untuk menghindari ijime (bullying) pada anak-anak.

Setelah istirahat bermain, anak-anak melajutkan belajar mata pelajaran. Tentang mata pelajaran yang diajarkan dapat dibaca dengen meng-klik mata pelajaran berikut ini, anda akan tertaut pada instagram laporan kunjungan kami.

  1. IPS SMP, IPS SD, IPSSMP2
  2. IPA SD, IPA SD2BiologiSMP1, Biologi SMP2, IPASMP3
  3. Matematika SD
  4. Bahasa Jepang
  5. Musik
  6. Moral
  7. Pembelajaran integrasi
  8. Hastakarya dan PKK (Home Economic).

Pada pukul 12.20 mulai makan siang bersama (給食の時間), tentang makan bersama dapat dibaca pada tautan berikut. 給食1給食2給食3

Setelah makan siang, anakanak selama 5 menit diberi kesempatan untuk menggosok gigi (12.55-13.00). Lama menggosok gigi setiap anak adalah 3 menit.

Dilanjutkan dengan bersih-bersih sekolah (Oosouji) selama 20 menit dan selanjutnya istirahat sampai dengan pukul 13.25. Silahkan lihat gambar berikut: 大掃除1, 大掃除2大掃除3

Pukul 13.30 dilanjutkan kembali dengan belajar mata pelajaran. Beberapa sekolah sebelum melanjutkan mata pelajaran ada waktu 10 menit untuk membaca buku yang mereka suka. Kisahnya baca di sini 読むの時間

Setelah membaca buku, pembelajaran dilanjutkan kembali.

Sebelum pulang selama 5 menit mereka melakukan pertemuan pulang. Waktu pulang SD di Jepang pukul 14.55 hari tertentu seperti Selasa ada kegiatan menulis (書しゃ) untuk kelas 2, pulang pukul 15.55.

Demikianlah penjelasan tentang kegiatan harian di Sekolah Jepang semoga bermanfaat bagi pembaca, dan dapat mengambil pelajarannya untuk membuat Indonesia Bagus. Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus!

Sensasional of Mecca and Madina

Di Mekah…. saya hanya beraktifitas di tanah harom, di Madinah juga…deng! Tanah harom itu adalah tanah yang hanya dimasuki oleh kaum muslimin, dan di tanah harom kaum muslimin di larang menyakiti, memburu dan membunuh binatang (termasuk memburu dan membunuh kecoa, lalat…juga nyamuk). Maka akan sangat wajar jika merpati banyak di Mekah dan Madinah. Menyakiti binatang aja tak boleh, apalagi manusia. Selain itu di tanah harom juga gak boleh memungut barang yg terjatuh atau tertinggal di jalanan (kecuali lihat sampah, ambillah… jangan biarkan tanah suci dikotori sampah). Syariat ini dibuat agar kita memfokuskan ibadah dan beramal baik selama di Tanah Harom. Jadi ini benar-benar perjalanan spiritual.

Dan perjalanan yg luar biasa. Betapa agungnya syariat islam, jika mampu kita diberikan kewajiban melakukan perjalanan spiritual sekali dalam seumur hidup kita. Sampai kini saya masih heran, kok bisa ya? Ibadah di Tanah harom ini fokus? Apa karena kita sholat menatap Ka’bah langsung? Atau memang syuurnya?

Beda banget dengan kondisi sholat di tanah air. Ketika takbiratul ihram….tuing tuing…oh iya ya…harusnya tadi referensi yg diambil itu dari Inch bukan Dowson….. eng ing eng inget tulisan jurnal. Lagi pas samialloh…. waduh iya tanggal 8 kan ada rapat di Tangsel belum ditandai di agenda, tar udah sholat tandai….ingat hal-hal yang terlupakan. Eh…di attahiyat….iya ya anak gue minggu ini PTS…perasaan tadi pagi anggrek belum disiram deh… segala tek tek bengek rumah keingetan….

Dan yang kayak gitu gak pernah terpikirkan saat kita shalat di Mesjidil Haram atau Mesjid Nabawi. Takjub, apa rahasianya ya? Mengingat hal ini gue jadi mikir, ini hikmah Alloh swt mewajibkan ibadah ini paling tidak sekali seumur hidup, tujuannya agar kita bisa merasakan NIKMATNYA BERCUMBU DENGAN AL KHALIK.

Selain sensasional spiritual, ada hal2 yg menarik di Madinah.

1) Dari pejelasan Ustadz Wandi yg alumnus Mekah. Dia menjelaskan arsitektur gedung hotel2 di Madinah sejenis dan dibuat tidak lebih tinggi dan megah dibandingkan Mesjid Nabawi, karena di sini ada makam Nabi. Mereka menghormati Nabi SAW. すごいね!

2) Suami heran, “Kenapa ya mobil2 di sini pada di buka kacanya, apa gak pake AC ya mobilnya?” Kebetulan depan hotel kita itu jalan raya yg memisahkan dg mesjid Nabawi, jadi lalu lalang mobil terlihat dan semua mobil buka kaca kalau lewat jalan ini. Menurut gue sih bukan karena mobil penduduk Madinah yg lewat mesjid Nabawi itu gak ada AC-nya, tapi karena mereka melewati Mesjid Nabawi yang makam Rasulullah SAW ada di sana, dan penduduk di sini menghormatinya dg membuka kaca jendela mobil saat lewat jalan depan Mesjid Nabawi ini.

3) Semua mesjid Nabawi benar-benar hidup dengan kajian. Tidak seperti mesjidil haram yg buka 24 jam dari segala pintu. Mesjid Nabawi ada jam tutupnya. Jam 11.00-03.00 pintu2 gerbangnya akan ditutup, dan menyisakan satu pintu gerbang yang dibuka yaitu babusalam pintu menuju Rawdoh langsung. Mirip dg mesjid Indonesia ada jam tutupnya. Hal yang mirip lainnya dg Indonesia adalah sahut menyahut adzan; mesjid Nabawi mesjid paling besar tapi ada mesjid2 kecil lainnya. Dan setiap mesjid akan mengumandangkan adzan sehingga sahut menyahut. Adzan bukan hak Mesjid Nabawi saja. Kajian ba’da subuh, kajian ba’da Dhuha, kajian ba’da Dzuhur, dan kajian ba’da Ashar ramai di mesjid dalam bentuk halaqoh-halaqoh kecil. Anak2, remaja, dan irang dewasa mengikuti kajian ini. Jamaah akhwat bersama para akhwat dan ikhwan bersama ikhwan. Mesjid Nabawi sangat makmur dg thalabul ilmi. Hal ini mengingatkan mesjid2 di Indonesia, ternyata dari Nabawi datangnya inspirasi kajian2 yg ada di indonesia. Bedanya, ustad/ustadazah di Indonesia melakukannya secara sukarela dan kadang dibayar infak mesjid, adapun di Madinah dibayar dan dikontrol oleh negara. Maka Mahzab para penceramah serta isi ceramah yang ada di mesjid Nabawi di kontrol oleh negara.

4) Pemandangan biasa melihat lelaki masyarakat madinah merokok sambil berjalan ke mesjid. Jadinya, wajarlah kalau sampai sekarang NU tak mengharamkan rokok. Hehehe….

5) Mobil2 yg melewati area sekitar mesjid Nabawi lebih sabar dan mengalah pada para pejalan kaki. Mobil akan berderet panjang demi menunggu para pejalan kaki menyebrang sehabis pulang dari mesjid. Tak ada klakson dibunyikan, di sini mobil mengalah demi pejalan kaki yg terkadang para pejalan kaki ini menyebrang tidak pada tempat penyebrangan.

6) Hotel-hotel memfasilitasi pedangang, pedagang difasilitasi hotel. Hotel bintang berapapun lantai bawah selalu diperuntukkan bagi pedagang. Jadi pintu-pintu lobby hotel di Madinah akan sejajar dengan kios-kios pedagang baik kecil, sedang, besar. Tampak saling bahu membahu menghidupkan sektor ekonomi, tidak ada fenomena KONGLOMERAT mematikan usaha UKM.

7) Ada hal lucu di madinah juga terjadi di Thaif ini. Ada Kebun buah di Thaif dan kebun kurma di Madinah. Saya pikir beneran ada pohon buah dan kurma lalu metik sendiri. Ternyata itu adalah pasar buah dan pasar kurma. Hehehe……

mengamati fenomena masyarakat kota Madinah ini menarik, karena Imam Maliki yg menjadikan akhlak penduduk Madinah sebagai hukum syara……… apa yamg dilakukan ahlul Madinah boleh kita lakukan apa yang tidak dilakukan tidak kita lakukan juga.

シカ🦌:奈良とボゴル

奈良パークへ行った時、シカがたくさんいます。奈良のシカを見た時、ボゴルのシカを考える。奈良のシカとボゴルのシカは同じですか? これはシカの写真です。見てください!

(1)きれいな自然にシカがいます。

ボゴルのシカ奈良のシカ

(2)ボゴルのシカににんじんをあげます。奈良のシカにケキをあげます。

(3) 奈良のシカはホーンがいません。ボゴルのシカはホーンがいます。

(4) シカが可愛い動物です。人々はシカがとてもすきです。ボゴルに“Pagar”あります。奈良にPagarありません。

可愛シカでしょう?

私の花見

今年3月29日から4月3日まで私たちは京都へ行った。桜が満開でしょう。楽しかったです。私は花がとても好きです。花を見て、花の写真を取ることが好きです。花がきれいでしょう。

日本で私は桜を見た時、写真を取った。私の携帯にいろいろ桜がたくさんあります。たとえば京都の桜と奈良の桜と富谷図の桜とお大阪の桜です。

桜のインフォを探した。よかった!私の写真に四つ桜があります。

1。ソメイヨシノ「Somei Yoshino, bunga sakura umumnya yang dikenal luas」。色の満開桜がピンクから白いまで。花びらは5つがいます。

2。シダレザクラ「Shidarezakura, bunga sakura menangis」色の花はピンクです。花びらは5つがいます。花が垂れ下がる。

3。ヤエザクラ「yaezakura, sakura berkelopak ganda」色の桜はピンクです。花びらは5の倍数:10、15、20 … 50。

4。山桜「yamazakura, bunga sakura liar]. 色の桜は白いです。花と葉っぱがあります。

楽しかったね!今年桜を見た。

Pengenalan Lapangan Persekolah di Jepang #PLP

plpjp

Pada tulisan sebelumnya saya mengulas tentang hasil observasi PLP di Jepang (Klik INI). Tulisan hari ini saya membahas hasil pertanyaan-pertanyaan tentang PLP untuk memperdalam pola PLP di Jepang. Pertanyaan-pertanyaan dijawab oleh Prof. Negishi dari Toyama University.

SKS PLP di Fakultas Human Develeopment (Fakultas Keguruan) di Toyama University berjumlah 4 SKS dan 1 SKS untuk Prior & Subsequent Guidance.

1 SKS Prior & Subsequent Guidence merupakan pembekalan yang diberikan oleh Universitas dan sekolah tempat PLP.  Pembekalan  ini bisa dikatakan sebagai PLP I,  PLP I diberikan sebulan sebelum PLP II (Praktek Mengajar di Sekolah).  Pelatihan terdiri dari:

1. Pembekalan di Universitas oleh para dosen, materinya adalah sebagai berikut:

Waktu (menit) Materi
90 Pembimbingan peserta didik
90 Etika Profesi Guru
90 Praktek mengajar

2.  Pembekalan di Sekolah oleh para guru, materinya adalah sebagai berikut:

Waktu (menit) Materi
90 Praktek mengajar
90 Pembimbingan peserta didik
90 Pendidikan moral

Pendidikan moral di Jepang diberikan selama 1 jam pembelajaran (1 jam pembelajaran di Jepang 50 menit).  Semua guru harus menguasai pendidikan moral, karena tidak ada guru khusus pendidikan moral.  Pendidikan moral harus bisa diajarkan oleh semua guru, termasuk guru Sains, IPS, Olah raga, dll.

Pembekalan dilakukan selama bulan Juli (7 月)Adapun PLP II (Praktik Mengajar di Sekolah) sebanyak 4 SKS, dilakukan dari bulan Agustus sampai bulan Oktober dilakukan di sekolah. Dengan jadwal sebagai berikut:

Bulan Kegiatan
Agustus Observasi mengajar 3 hari.
Agustus Pembimbingan pre dan pos praktik mengajar
29 agustus-19 september Praktik mengajar di kelas secara kolaboratif, satu kelompok terdiri dari 4 orang.
Bulan 10 Bimbingan pasca praktik mengjar

Berdasarkan jadwal tampak bahwa kesempatan para mahasiswa mengajar ini diberikan dalam jumlah yang terbatas, hanya dua minggu.  Sebagian besar lebih banyak para guru melakukan bimbingan baik sebelum maupun sesudah praktik mengajar.  PLP II di Jepang, berorientasi “Bagaimana Guru Senior, memberikan pengalaman mengajar pada para calon guru.”  Hal ini seiring dengan tujuan dari Pendidikan Keguruan di Jepang sendiri yaitu: menghasilkan guru yang terlatih dengan baik dan mengembangkan model pengajaran untuk sekolah publik.  Selama dua bulan di sekolah, walaupun praktik mengajarnya hanya diberikan kesempatan 10 hari saja, namun kehadiran mahasiswa di sekolah tiap hari kerja dari jam 8.00 sampai jam 18.00 sebagaimana jam kerja guru di Jepang.

Hal yang menarik berikutnya adalah jawaban dari pertanyaan kami, “Sebelum melakukan praktik mengajar di sekolah apa saja yang dilakukan mahasiswa kependidikan di Jepang?

Selain sudah menamatkan  serangkaian matakuliah kependidikan seperti di Indonesia umumnya, bagi yang mengikuti praktik mengajar juga diwajibkan sudah mengikuti kegiatan volunteer di sekolah negeri.  Apa itu kegiatan voluenteer? Kegiatan voluenteer adalah kegiatan membantu guru-guru di sekolah (mereka tidak mengajar, tapi jadi semacam shadow teacher atau supporting teacher). Mereka membantu para guru menyiapkan media pembelajaran, membantu para siswa tertentu yang perlu bimbingan khusus, membantu kegiatan saat pembelajaran proyek atau eksperimen atau field trip, dll.

Begitulah PLP di Jepang.

Bagaimana Praktek Pengenalan Lapangan Persekolah di Jepang? #edutraveling

9-17 September 2018 kami melakukan perjalan dalam rangka The Project for Establishing the Subject ‘Environment’ in Junior High Schools and Disseminating Environmental Education yang disponsori oleh JICA pathership dengan IEPF (Indonesian Education Promoting Foundation).  Apa yang saya paparkan di bawah ini adalah side effect dari kunjungan (Kata orang islam mah BERKAH BANGET ini mah).  Pada saat kami kunjungan ke sekolah pembelajaran yang dilakukan bertepatan dengan keberadaan mahasiswa on job training di sekolah tersebut. Berikut hal-hal yang bisa kita ambil, yang sangat bermanfaat bagi perbaikan matakuliah Pengenalan Praktek Lapangan Persekolahan di universitas kita.

Di Jepang, setiap lulusan perguruan tinggi dari jurusan manapun bisa menjadi guru dengan syarat mengikuti program lisensi guru selama satu tahun.  Universitas tertentu juga mempunyai fakultas keguruan yang bertujuan mencetak sarjana pendidikan.  Salah satu universitas tersebut adalah universitas Toyama.  Universitas Toyama mempunyai Fakultas Ilmu Pendidikan tempat mencetak calon guru nama fakultasnya Fakultas Human Development.

Tentang  mata kuliah on job training(Pengenalan Lapangan Persekolahan dalam kurikulum Indonesia) di Jepang:

Menurut penuturan Prof. Negishi Sensei:  Pada semester 5 dan 7 atau tahun ke-3 dan ke-4 mahasiswa melakukan on job training (disingkat OJT) selama 3 minggu dengan 10 kali penampilan di kelas.   Sebelum melakukan on job training mahasiswa mendapatkan pelatihan membuat RPP, cara mengajar, membuat media, dan evaluasi.  Para mahasiswa praktik mengajar di sekolah (OJT) juga mengikuti semua aktifitas yang ada di sekolah misalnya osouji (waktu bersih-bersih sekolah), makan bersama anak-anak, pokoknya kegiatan yang dilaksanakan di sekolah selama tiga minggu waktu OJT diikuti semua oleh mahasiswa keguruan ini.

Observasi OJT di Toyama Chougakko dan Shougakko

Pada tanggal 11-12 September 2018 saya berkesempatan melakukan observasi aktifitas mahasiswa on job trainingdi SD dan SMP Fuzoku sebuah sekolah afiliasi dengan universitas Toyama.  Di sekolah ini ada 70 mahasiswa OJT dari berbagai jurusan seperti PGSD, Sains SMP (Rika), IPS SMP (Sakai), bahasa, musik dan seni, dan lain sebagainya. Kami berkesempatan menyaksikan tampilan dari mahasiswa OTJ bidang studi rika dan sakai di SMP.  Kami menyaksikan tiga pembelajaran terkait sains dan satu pembelajaran terkait IPS.  Di Jepang satu jam pembelajaran berlangsung selama 50 menit.  Pengamatan kali ini juga berlangsung selama 50 menit.

1) Pengamatan pada pembelajaran sains: 

Pembelajaran dilakukan di laboratorium,  Siswa sudah duduk secara berkelompok di meja masing-masing, satu kelompok terdiri dari 4 orang dengan proporsi gender yang seimbang yaitu dua lelaki dan dua perempuan. Ada 9 kelompok siswa SMP di laboratorium (36 orang siswa).  Ada empat orang gakusai daigaku (mahasiswa OJT)), satu orang berperan sebagai guru model dan tiga orang berperan sebagai observer juga membantu secara teknis pada saat pembelajaran.  Guru sains hadir di kelas tersebut melakukan observasi jalannya OJT

Pada sesi ini mahasiswa OJT menjelaskan prosedur yang akan dilakukan di laboratorium, dan membimbing siswa melakukan praktikum.  Praktikum di kelas sains yang kami amati adalah:

  • Kelompok 1 mahasiswa OJT terdiri dari 4 orang: Praktikum memprediksi zat berdasarkan sifatnya. Mahasiswa OJT menyediakan empat bubuk yaitu gula, garam, tepung kentang, dan satu bubuk X [rahasia].  Keempat bubuk tersebut secara acak diberi huruf A, B, C, D.  Peserta didik memprediksi bubuk apa yang ada dalam A, B, C, dan D berdasarkan sifat-sifatnya ketika diberi empat perlakukan yaitu dipanasi, …..,……,…… (pas pengamatan itu kurang terperhatikan perlakuannya apa saja maaf).
  • Kelompok 2 Mahasiswa OJT terdiri dari 4 orang: Praktikum mengamati karakteristik organ manusia. Mahasiswa OJT membawa organ dari babi yang strukturnya mirip manusia.  Dengan cara demonstrasi mahasiswa memperlihatkan organ jantung dan paru-paru yang dipompa sampai mengelembung.  Selanjutnya organ lainnya seperti hati, ginjal, tenggorokan, jantung diberikan kepada setiap kelompok untuk melakukan pengamatan.
  • Kelompok 3 OJT terdiri dari 3 orang: Praktikum mengamati reaksi enzim gelatin pada buah kiwi.Buah kiwi dipisahkan menjadi tiga bagian: pusat, lingkaran tengah, dan lingkaran luar.

Gambar 1.  Pembelajaran sains oleh mahasiswa on job training satu mahasiswa berperan sebagai guru model.  Mahasiswa lainnya membantu teknis ketika pengajaran dilakukan. [Dokumentasi foto dari IEPF2018 Taken by Yanti Herlanti]

2) Pengamatan pembelajaran sakai (IPS):

Kelompok 1 OJT Sakai terdiri dari 4 orang: Topik yang dibahas adalah tentang hukum pidana.  Mahasiswa OJT mengambil topik popular untuk dibahas di kelas yaitu “Pro Kontra Terhadap Hukuman Mati bagi Kasus Terorisme di Jepang”. Kasus ini sedang menjadi pembahasan di Jepang,  sekelompok pelaku terorisme pada 13 tahun lalu, pengadilan memutuskan beberapa waktu lalu hukuman mati bagi para pelaku.  Mahasiswa OJT memberikan potongan berita korannya.  Selanjutnya menampilkan video beberapa narasumber yang pro maupun kontra terhadap hukuman mati.  Peserta didik juga diberikan resume tentang hukuman mati di Jepang oleh mahasiswa OJT.  Peserta didik secara individu selanjutnya diminta untuk menentukan posisi pro atau kontra beserta alasannya.  Alasannya harus didukung dengan sumber-sumber referensi yang ada.  Walhasil para siswa merujuk beberapa referensi selain rujukan para ahli yang tampil di video mereka pun membuka buku enslikopedia IPS yang membahas tentang hukuman mati tersebut.  Sebagai catatan buku enslikopedia ini dimiliki oleh para siswa sebagai buku referensi tambahan selain buku teks, maka saat mereka ada pelajaran IPS, buku enslikopedia ini selalu menemani.  Buku enslikopedia ini diperbaharui setiap lima tahun sekali. Pembelajaran selama 50 menit berakhir dengan menuangkan pendapat tiap individu, menurut pendapat mahasiswa OJT, mereka akan melanjukan dengan diskusi pada pertemuan selanjutnya.

Gambar 2.  Pembelajaran IPS oleh mahasiswa on job training dengan topik isu sosiosaintifik. [Dokumentasi foto dari IEPF2018 Taken by Yanti Herlanti]

 3) REFLEKSI dengan guru pamong

Setelah mahasiswa OJT melaksanakan pengajaran di kelas, guru pamong berdiskusi dengan mereka berempat.  Pada saat itu kami mengikuti sesi refleksi yang berlangsung dari jam 10.51 – 11.31 (kurang lebih 40 menit waktu yang diperlukan untuk refleksi).  Pada refleksi ini guru pamong mengawali dengan menanyakan perasaan guru model dan refleksi kekurangan saat mengajar tadi, selanjutnya menanyakan hal yang sama dari teman-teman yang mengobservasinya.  Guru pamong kemudian memaparkan catatan pengamatannya selama observasi guru model, dan juga menyampaikan tips-tips diantara tips itu adalah “Jangan jadi BAPER pada saat pembelajaran ditonton banyak orang, karena pada kondisi nyata itu akan terjadi setiap saat”  [Maklum para mahasiswa OJT cukup shock ketika mengajar diperhatikan kami, ini suatu yang alamiah tentu saja].

Image

Gambar 3.  Guru Pamong dan Mahasiswa On Job Training sedang melakukan refleksi [Foto IEPF2018 taken by Yanti Herlanti]

Beberapa pertanyaan

Beberapa pertanyaan kami sampaikan, karena hal ini tidak kita lihat saat observasi.  Misalnya bagaimana para mahasiswa OJT ini mempersiapkan lesson plan.  Jawabannya mereka sendiri yang mempersiapkan lesson plan –nya secara kelompok. Mereka berdiskusi dengan tuntutan silabus yang ada bagaimana merepresentasikannya, topik apa yang dipilih, bagaimana mengajarkannya dan lain-lain.  Mahasiswa OJT kemudian mengkonsultasikanlesson plandengan guru pamong.  Guru pamong memberikan masukan-masukan pada lesson planyang dibuat. Katanya satu lesson planbisa didiskusikan 3-5 kali dengan guru pamongnya.  Lalu bagaimana pembagian pengajaran?  Satu kelompok sebanyak empat orang tersebut berbagi peran pada saat pengajaran.  Mereka memilih secara bergiliran siapa yang akan menjadi guru model.  Saya membayangkan jika satu kelompok 10 kali tampil, maka satu orang akan tampil mengajar 2-3 saja.

Berdasarkan wawancara, penjelasan Prof. Negishi, dan observasi pelaksanaan OJT di Toyama Shougakko, maka dapat disimpulkan POLA yang diberlakukan oleh Universitas Toyama dalam matakuliah OJT (Indonesia PLP II) adalah “LESSON STUDY”.

  • PLAN: Sekelompok mahasiswa (4 orang satu kelompok) membuat satu RPP (lesson plan) bersama-sama.
  • DO : Sekelompok mahasiswa memilih satu orang yang akan tampil menjadi di depan kelas.  Sisa mahasiswa lainnya menjadi observer.
  • SEE: Mahasiswa lainnya sebagai observer berbekal lesson plan mengamati aktifitas peserta didik dan juga membantu secara teknis hal-hal yang diperlukan seperti bimbingan kelompok saat praktikum.  Guru pamong pun mengamati pengajaran dan pembelajaran yang dilakukan oleh mahasiswa OJT.
  • REFLEKSI: Pada akhir penampilan, guru pamong dan sekelompok mahasiswa OJT melakukan refleksi terhadap kegiatan pengajaran di kelas saat itu.

Inspirasi bagi Indonesia:

Semua Fakultas Pendidikan di Indonesia pada saat ini sedang melakukan reformasi kurikulum terutama pada matakuliah On Job Trainingatau di Indonesia dikenal dengan matakuliah Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP). Kementerian Pendidikan Tinggi Indonesia sudah memberikan panduan tentang PLP I dan PLP II bagi strata S1 (level 6). Namun secara teknis bagaimana membedakan dengan On Job Traning yang dilakukan pada Program Sertifikasi Profesi Guru (level 7).   PLP II bagi masiswa S1 (level 6) dibeberapa universitas, termasuk universitas saya masih sama dengan Praktek Mengajar mahasiswa program profesi (level 7) yaitu secara invidual mahasiswa mengajar di kelas sebanyak 10-12 kali pertemuan.  [Bandingkan dengan pengalaman saya di Jepang, setiap individu hanya mengajar 2-3 saja dengan pola lesson study.  Beban mahasiswa S1 Indonesia tentu menjadi lebih berat bukan? Padahal mereka belum masuk pada profesi guru].  Berdasarkan pengalaman ini, teknik PLP II di Indonesia dapat mengadopsi pola lesson studi di Jepang ini.  Namun untuk sampai pada pola di Jepang, kita punya pekerjaan rumah yang penting baik bagi perguruan tinggi maupun bagi dinas pendidikan setempat.

  • Perguruan tinggi harus memetakan guru-guru yang berkualitas dari sisi keterampilan pedagogi, personal, sosial, dan konten. Pemetaan para guru yang punya kemampuan professional dalam membimbing para mahasiswa PLP dengan sepenuh hati.
  • Sekolah dan Dinas Pendidikan Daerah harus mampu mempersiapkan guru-guru super dengan kemampuan mumpuni dalam pedagogi, personal, sosial, dan konten, serta mempunyai integritas tinggi membantu para juniornya melakukan akselerasi kemampuan mengajar.

Bogor, 21 September 2018

Rapih: one of Japan culutre

Pernah berkunjung ke Jepang? Apa kesan pertama anda terhadap negara ini? Ungkapkan dalam tiga kata: BERSIH, RAPIH, TERATUR! itu yang senantiasa saya dapatkan ketika mengajak peserta ke Jepang pertama kalinya, dan itu pula yang saya rasakan.  Mengapa bisa seperti itu?

Tulisan sebelumnya sudah dibahas mengapa Jepang bisa bersih? Silahkan baca tulisan saya tentang O-sōji: Piket membersihkan sekolah di Jepang #SerialPendidikandanKehidupan diJepang).  Mengapa jepang masyarakat jepang teratur? Silahkan lihat salah satunya dalam tulisan tentang Antri: just one of Japan culture).  Kali ini saya akan tuliskan mengapa kehidupan di Jepang bisa rapi?

Budaya rapi.  Suka lihat film Dora Emon kan? Nobita, Giant, dan Suzuka pegang sapu dan lap menyapu dan mengepel rumah udah biasa bukan? Juga bagaimana mereka membereskan kembali sepatu dan sandalnya.  Di rumah dilakukan, di sekolah pun dibiasakan.  Maka jika lihat di Jepang tak ada sandal atau sepatu yang letaknya berantakan kayak di pelataran mesjid di Indonesia saat sholat jum’at atau jama’ah.  Semuanya akan tertata rapi, kenapa? Melihat yang rapi hati kita damai bukan? Itulah esensinya! KEDAMAIAN HIDUP! KENYAMAAN HIDUP! Bahkan berbagai teknologi yang diciptakan oleh Jepang pun punya filosofi “Bagaimana membuat hidup orang Jepang (manusia) nyaman?” Jalan kaki Bandung-Jakarta membuat gempor bukan, pakai kuda pun kasihan kudanya, lalu ketika eropa menciptakan mobil yang super duper mahal dan ternyata mobil memberikan kenyamaan dalam perjalanan, maka Jepang bertekad memurahkannya agar semua orang bisa nyaman.  Pun “Shinkazen”, kereta peluru ini lahir karena paradigma ‘banyak orang yang memilih naik kereta karena takut ketinggian atau takut naik pesawat, namun naik kereta acapkali memakan waktu lama.  Maka kereta peluru ini bisa memotong waktu sampai empat kali,  menyenangkan hati orang lain atau sesama manusia ….ini prinsip hidup mereka.

Karena dengan rapih, pandangan mata semua orang menjadi nyaman, maka inilah yang ditanamkan di sekolah-sekolah Jepang dengan pembiasaan membereskan sandal-sandal dan ditata rapi.

Anak SD Jinzumidori merapihkan sandal tolitet mereka

Tidak hanya itu, penulis pernah mengunjungi tempat pembakaran sampah bersamaan dengan itu, anak-anak dari sebuah sekolah berkunjung ke tempat yang sama.  Apa yang mereka lakukan terhadap sepatu dan tempat minum mereka? Mereka merapihkan susunan sepatu dan barang bawaan mereka dengan rapi tanpa disuruh gurunya, mereka otomatis melakukannya karena “RAPIH adalah BUDAYA MEREKA. “Wow sugoi desuka?”

IMG_0178

Anak-anak sekolah berkunjung ke Tempat Pembakaran Sampah Propinsi Toyama, sepatu dan termos air yang mereka bawa disusun rapi oleh mereka sendiri.

Bukan hanya itu, MERAPIHKAN KEMBALI apapun punya kita dan bekas kita itu menjadi tanggung jawab kita.  Di Indonesia, kita sering melihat sehabis makan direstoran kita tinggalkan meja dengan berantakan, maka jangan lakukan itu di Jepang, walaupun itu di restoran cepat saji sekalipun. Di banyak restoran di Jepang, kita yang harus membereskan meja kita sendiri. Bahkan disediakan serebet untuk membersihkan meja kita sendiri.  Sampah-sampahnya pun harus kita buang sendiri.

Sehabis makan meja dibereskan, dibuang sampahnya termasuk sisa cairan yang ada.  Semua dirapihkan sendiri. 

Jadi inilah sebab mengapa Jepang rapih? Pembiasaan dilakukan oleh siapapun dimanapun dan dilakukan mulai dari sekecil apapun.  Mau Indonesia lebih baik! Ayo, pikirkan bagaimana membuat orang lain nyaman dan mudah!

 

Antri: just one of Japan culture

Bagi negara Jepang, antri merupakan bagian dari budaya mereka.  Sejak kapan jepang punya budaya itu? Entahlah yang jelas orang jepang punya prinsip, (1) “kerjakan segala sesuatu dengan cepat, rapih, dan tertib” (2) “Pikirkan perasaan orang lain”  (3) “Setiap aturan dibuat untuk membuat nyaman semua orang, jadi patuhi aturan”.  Aturan yang terus menerus dilakukan menjadi pembiasaan, pembiasaan pada akhirnya menjadi budaya.  Orang yang tidak ikut budaya akan dianggap sebagai orang aneh (Hen).

Apa yang menyebabkan prilaku ini menjadi sebuah budaya? kunci ada pada sinergitas antara rumah, sekolah, dan masyarakat atau istilah singkatnya “semestakung – semesta mendukung”

Budaya antri.  Rasanya sejak dalam kandungan Bayi di Jepang sudang diajak antri sama ibunya.  Tidak keistimewaan ibu hamil harus didahulukan ketika antri di kasir minimarket atau antri masuk kereta atau antri ke toilet.  Semuanya mengantri sesuai urutan kedatangan.  Ketika pertama kali mata Si Bayi itu diajak jalan orang tuanya, dia harus mengantri masuk bus, mengantri makan di restoran, dan mengantri-mengantri Si Jabang bayi yang baru melek itu melihat, itu terus berlanjut sampai ketika mereka tiga tahun ketika diajak orang tuanya jalan-jalan.  ANTRI sudah menjadi pemandangan baginya. Namanya anak umur tiga tahun ya pasti ada saja ingin cepatnya, namun ketika si anak ini memperlihatkan egonya, menerobos antrian, maka orang tua akan memegangnya untuk patuh pada urutan antrian.  Maka ketika mereka masuk TK, mengantri karena pandangan harian di masyarakat, diajarkan dan dicontohkan orang tua, juga dilihat dari lingkungan sekitar.  Tidaklah mengherankan jika kita berkunjung ke TK di sana, anak-anak biasa antri dengan sabar menunggu giliran. Guru pun tak cape dalam mengarahkan mereka untuk sabar mengantri.

 

Anak-anak TK Kamidaki sedang mengantri dengan sabar menunggu giliran bermain. Tanpa perlu ekstra pengawasan dari guru.

Tidak hanya di dalam kelas, ketika kunjungan pun mereka terbiasa antri.  Pembiasaan di masyarakat dan diperkuat melalui pendidikan di sekolah membuat antri menjadi budaya melekat, maka para siswa TK dengan ketika mereka mengunjungi area publik maka dengan otomatis mereka sudah antri. Cukup menunjukkan tangan dua jari, siswa otomatis mengantri berpasangan dengan temannya, tanpa perlu gurunya berteriak-teriak lagi. “Wow, sugoi desuka?”

Anak-anak TK antri memasuki Aquaculture Uozu di Prefecture Toyama Japan

Bagi orang Jepang juga bagi kita sih  “tidak  antri” memiliki kerugian yang banyak, diantaranya: (1) Waktu terbuang banyak.  Misalnya masuk kereta api.  Bayangkan jika tidak ada budaya antri, semua orang berebut masuk duluan.  Akhirnya banyak yang terjepit dipintu, memperhambat orang belakang untuk masuk.  Berapa lama waktu terbuang hanya untuk empet-empetan di pintu masuk kereta.  (2) cape hate (bhs. sunda – bahasa indonesianya lelah hayati).  Misalnya antri di toilet, orang akan ribut mulut merasa duluan gara-gara tak ada line antrian.  Akibatnya ngelus dada, sampai jantungan. (3) tercabut nyawa.  Kok bisa? pernah dengar ada seorang saudagar membagikan zakat, dan masyarakat yang datang berebut tak antri? Akhirnya pencari sedekah harus meregang nyawa karena diinjak-injak oleh pencari sedekah lainnya.  Coba kalau antri?

Antri adalah perbuatan yang membuat semua orang nyaman dan adil, perasaan semua orang pun menjadi senang, inilah sebabnya budaya antri dijunjung di Jepang, karena filosfi mereka adalah “Bagaimana menjadi warga negara jepang sebagai warga negara yang cinta damai”.  Cinta damai hanya akan terwujud jika kita bisa membuat orang lain merasa nyaman dan diperlakukan serta memperlakukan orang dengan adil tanpa melihat dia itu anak, orang tua, dan tanpa memandang ras, suku, dan agama. Budaya antri hanyalah bagian kecil saja dari mewujudkan warga negara Jepang yang cinta damai.

 

Ironis bukan? Padahal AL ISLAM yang berasal dari SALAM bermakna damai. Harusnya “islamlah yang menghadirkan manusia-manusia cinta damai itu.  Namun kita tak mampu mewujudkan esensi apa yang menyebabkan manusia bisa damai? Jepang mengajarkan esensi “Kedamaian adalah manakala kita bisa mencabut ego kita baik ego individu maupun ego kelompok dengan memikirkan perasaan orang lain dan kepekaan sosial yang membuat semua orang merasa nyaman dalam hidup”.

Sikap radikal tanpa toleransi jauh dari kesan damai yang diperlihatkan oleh sebagian muslim pun lahir karena “EGOSENTRIS atau memikirkan diri sendiri atau kelompoknya saja”, sehingga lahirlah sifat kukuh yaitu keharusan dalam segala aspek kehidupan wajib kudu “SEIMAN” kalau gak seiman BOIKOT Jangan dibeli Jangan di tonton dan Jangan-Jangan lainnya.  Hal yang banyak menjangkiti sebagian kaum muslim saat ini “EGO – BAGAIMANA SAYA SENANG, BAGAIMANA KELUARGA SAYA NYAMAN, BAGAIMANA SAYA CEPAT SAMPAI TUJUAN, dan saya saya saya lainnya.  Maka tidaklah mengherankan jika seorang ulama Mesir “M. Abduh” ketika berkunjung ke negara yang mereka sebut kafir, Dia mengatakan “Aku tidak melihat muslim disini, tapi aku melihat islam“.  Namun ketika dia ada di negara islam dia mengatakan, “Aku melihat banyak muslim di sini, tetapi aku tidak melihat islam” 

Jika kita ingin semua orang mengatakan, “Aku melihat banyak muslim di sini, dan aku melihat islam”, maka mulailah dengan menghilangkan EGOSENTRIS, dan mulai memikirkan apakah orang lain akan senang, nyaman, dan rido dengan apa yang kita lakukan…….

O-sōji: Piket membersihkan sekolah di Jepang #SerialPendidikandanKehidupan diJepang

Selama tiga tahun saya mendapat kesempatan bergabung dalam proyek pengembangan kurikulum pendidikan lingkungan bersama Indonesia Education Promoting Foundation (IEPF) Japan didukung oleh Japan Cooperation International Agency (JICA). Kali ini saya akan menggambarkan bagaimana gelaran piket membersihkan sekolah di Sekolah Dasar Jepang. Semoga bermanfaat bagi bapak dan ibu, terutama di Sekolah Dasar.

Sampah! Jika kita lihat kelas di sekolah-sekolah Indonesia saat ini, maka selama proses belajar dan setelah proses belajar, sampah berserakkan di dalam kelas merupakan fenomena biasa. Tapi tenang saja, segerombolan petugas kebersihan sekolah akan serta merta datang setelah usai sekolah, dia akan membersihkan seluruh sekolah.

Dulu, jaman saya sekolah. Setiap hari ada tugas piket. Kita pergi ke sekolah selain membawa buku juga membawa kemoceng, sapu, taplak meja, pas bunga, dll. Sebelum pembelajaran di mulai anak-anak membersihkan kelas, dan setelah selesai belajar juga membersihkannya kembali. Jika ada anak yang tidak piket, kita catat, lalu lapor pada guru wali kelas, biasanya ini jadi salah satu tugas Ketua Murid (KM). Jumlah anak yang piket dibagi berdasarkan hari belajar setiap minggunya. Tapi itu dulu, ketika saya masih menggunakan kurikulum 1975 duduk di bangku SD dan SMP. Ketika SMA saya mulai masuk kurikulum 1984 seingat saya kegiatan kerja bakti hanya dilakukan sekali saja ketika kelas satu, lepas dari itu tidak pernah lagi piket bersih-bersih, semuanya dilakukan oleh petugas kebersihan sekolah. Sekolah pun mulai menggaji banyak petugas kebersihan.

Lalu apa pengaruhnya penghapusan piket kebersihan di sekolah? Pernah dengan keluhan orang tua pada anaknya seperti ini? “Lah! Apa? Kakak disuruh bersih-bersih sekolah? Itukan tugasnya petugas kebersihan, kakak ke sekolah untuk belajar bukan untuk bersih-bersih! Besok ibu akan protes sama sekolah!” Pada diri sebagian anak-anak sekarang kita lihat, bagaimana dengan seenaknya dia berjalan di lantai yang baru dipel oleh petugas kebersihan, dan sepatunya pun kotor. Ketika berada di tengah masyarakat, dengan seenaknya dia melempar sampah ke luar mobil, dan entengnya berkata “Nanti juga ada petugas yang membersihkannya” Ketiga kota tempat tinggalnya kotor, dia akan serta merta menyalahkan Dinas Kebersihan Kota, tak tergerak hatinya untuk turut membantu meringankan beban dinas kebersihan kota. Nah, berat sekali ternyata dampaknya ya?

Piket Membersihkan Sekolah di Jepang

Siapapun yang pernah ke Jepang, akan terkesan dengan kebersihan kotanya. Darimana budaya ini ditanamankan? Sudah banyak diketahui khalayak dan sering kali menjadi viral di media sosial terkait salah satu budaya sekolah Jepang yaitu membersihkan sekolahnya. Aktifitas ini di Jepang dinamakan o-sōji, dilakukan oleh semua sekolah negeri maupun swasta dari tingkat sekolah dasar sampai menengah atas.

Kegiatan ini dilakukan oleh peserta didik setiap hari setelah istirahat makan siang. Ditandai dengan bel, anak-anak bergegas membersihkan seluruh sekolah sesuai tugasnya masing-masing. Pada awal semester sekolah telah membagi anak-anak dalam kelompok-kelompok kebersihan. Satu kelompok kebersihan terdiri dari anak kelas rendah (I,II,III) sampai tinggi (IV, V, VI). Satu kelompok bertugas membersihan bagian tertentu, hampir setiap sudut sekolah ada anak-anak yang menjadi petugas kebersihan. Lantai aula atau lapangan indoor dibersihkan oleh kelompok anak, kaca kelas, ruang kelas, ruang perpustakaan, koridor, toilet, tangga, dan lainnya kecuali ruang guru dan kepala sekolah, semua sudut sekolah dibersihkan peserta didik.

Setelah selesai membersihkan sekolah, anak-anak kelas VI sebagai supervisor akan menanyakan pada setiap kelompok yang telah selesai membersihkan dengan pertanyaan: “Tadi sudah membersihkan apa saja? Apakah ada kesulitan dalam membersihkannya?”

Setelah selesai kegiatan o-sōji anak-anak membereskan kembali peralatan kebersihan. Termasuk peralatan kebersihan yang mereka bawa. Setiap anak di sekolah Jepang mempunyai lap yang mereka bawa dari rumah.

Kegiatan o-sōji dilakukan oleh anak-anak di seluruh Jepang setiap hari. Kegiatan ini merupakan program di sekolah-sekolah Jepang baik negeri maupun swasta dari mulai sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Pembiasaan inilah yang menjadikan Jepang sebagai negara bersih. Budaya membersihkan sekolah, bukan sekedar menumbuhkan rasa kepemilikan dan cinta terhadap sekolah, tetapi berdampak pada merasakan cape-nya melakukan tugas kebersihan. Akibatnya jika akan mengotori dan buang sampah sembarangan, maka akan pikir panjang. Kegiatan o-siji pun menumbuhkan rasa empati.

Membelajarkan kebersihan

Anak-anak Jepang tidak mengeluh dan senang hati melakukan o-sōji. Selama observasi kegiatan o-sōji di berbagai sekolah dasar di Jepang, baik sekolah di pegunungan seperti Jinzu Midori Propinsi Toyama maupun di sekolah perkotaan seperti Tokyo, tidak ada satu pun anak yang leha-leha tidak mengerjakan tugasnya. Semuanya bekerja membersihkan sekolah sesuai tugas mereka. Hal ini mereka lakukan karena sadar bersih berarti sehat.

Kebersihan pangkal kesehatan. Slogan ini marak ditempel diberbagai sekolah di Indonesia. Pertanyaannya adalah, “Apakah kita dan anak didik mengerti arti dan maknanya? Di Jepang anak-anak diberikan pengertian bahwa kuman dan hewan pembawa penyakit seperti nyamuk, lalat, kecoa, dan tikus sangat suka hidup di tempat yang kotor. Lalat akan hinggap ditempat yang berbau dan busuk. Kuman adalah mikroorganisme kecil akan menempel pada debu-debu. Jika tidak ingin terkena penyakit, maka bersih dari debu, bau, dan kotor. Bersih dari debu dan kotoran, tentu tidak mengundang hewan-hewan pembawa penyakit untuk datang. Jika sakit, maka banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar rumah sakit, dokter, dan obat. Selain itu sakit membuat badan merasa tidak nyaman, tidak semangat beraktifitas, dan tidak produktif. Sakit membuat diri menjadi sedih dan menyusahkan orang lain di rumah. Tidak ada orang bahagia karena sakit. Sakit pun dapat berakibat pada kematian. Pengetahuan inilah yang ditanamkan sehingga peserta didik paham mengapa ada slogan “Kebersihan pangkal kesehatan, kesehatan pangkal kesejahteraan dan kebahagian

Lalu siapa yang bertanggungjawab terhadap kebersihan? Di Jepang punya prinsip siapa yang mengotori dia yang membersihkan, siapa yang menggunakan dia wajib menjaganya, bahkan ada slogan sampahmu tanggung jawabmu. Jadi tugas kebersihan itu jadi tanggung jawab sendiri bukan tanggung jawab petugas kebersihan. Semua anak di sekolah menggunakan fasilitas sekolah, jadi kebersihan sekolah adalah tanggung jawab bersama.

Dari mulai masuk sekolah, mereka telah menjaga kebersihan sekolah. Tidak membiarkan debu mengotori sekolah, caranya anak-anak di sekolah Jepang mempunyai sepatu khusus selama di sekolah. Sepatu ini di simpan di sekolah, dan dipakai selama di kelas. Sepatunya terbuat dari karet, dan semua sepatu anak lelaki dan perempuan sama. Sepatu yang mereka pakai dari rumah, yang telah menginjak jalan berdebu akan di simpan di loker selama belajar di sekolah, mereka menggunakan kembali sepatu tersebut ketika pulang. Begitu pula para guru, mereka menggunakan dua sepatu. Sepatu khusus untuk di kelas yang tak berdebu dan tak dipakai di luar. Mengapa itu dilakukan? Selain menjaga kebersihan sekolah mereka dari debu yang berterbangan, debu yang dibawa dari luar atau jalanan mengandung kuman yang dapat membuat mereka sakit. Melepas sepatu luar dan mengganti dengan sepatu khusus selama di kelas dan sekolah adalah cara menjaga kebersihan dan kesehatan.

Bagaimana dengan sekolah di Indonesia? Apakah sekolah akan bertahan dengan memperbanyak petugas kebersihan yang digaji sekolah? atau memberdayakan kembali peserta didik untuk membersihkan sekolah dan menjaga kebersihannya? Mari kita pikirkan! #Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus#