Traveller, Imigrasi Jedah, dan Umroh

Banyak yang mengazamkan diri “Tidak akan berpergian ke luar negeri sebelum Umroh atau Berhaji”. Itu terjadi ketika saya mengajak beberapa teman untuk melakukan #edutravelling. Saya sendiri tak pernah mempunyai azam seperti itu. Saya mungkin tipe orang realitis dengan nalar logika lebih dominan daripada perasaan dan idealisme. Apa yang datang duluan ya saya kerjakan.

Perjalanan luar negeri pertama saya bukan ke Arab Saudi buat Umroh, tapi ke Thailand buat studi banding penerapan pendidikan lingkungan, terjadi tahun 2013, sebelumnya tidak pernah melakukannya, alasannya “3 anak saya kecil-kecil agak berabe bawa anak-anak kecil melakukan perjalanan” Selanjutnya ke Malayasia buat menghadiri seminar internasional selanjutnya sejak tahun 2013 hampir tiap tahun ke Jepang sebagian besar karena pekerjaan pada proyek pengembangan pendidikan lingkungan yang didanai lembaga sponsor dari Jepang, perjalanan dinas ke Jepang hampir tidak pernah dilakukan di musim semi dan selalu dilakukan ke Kota yang sama Tokyo dan Toyama, karena memang proyek kerjasamanya dengan universitas di kedua kota ini juga. Pada akhirnya dengan kocek sendiri saya dan adik saya berdua saja menikmati indahnya sakura di Kyoto Jepang. Wah….. jadi perjalanan yang tak terlupakan.

Perjalanan lain yang merogoh kocek saya eh salah deh inimah merogoh kocek suami adalah perjalanan ke Korea Selatan. Hahaha ini perjalanan yang unik karena semuanya ibu-ibu. Sebagaian besar isteri2 yang suaminya punya jabatan. Suami agak ragu ketika meminta saya melakukan perjalanan ini, karena itu artinya saya harus ambil cuti dari kantor, mana mungkin dapat surat tugas untuk acara jalan-jalan seperti ini, tambah lagi pekerjaan kantor kadang gak bisa ditinggal. Untungnya perjalannya pada akhir Januari, penilaian akhir semester sudah beres, laporan BKD juga sudah beres, saya akhirnya oke-oke aja.

Dengan pengalaman perjalanan itu baru November 2019 berkesempatan umroh. Umroh ini hadiah bagi suami yang berprestasi dari Propinsi Jabar. Mereka membolehkan mengajak pasangan, asal ongkos pasangan yang diajak dibayarin sendiri, propinsi hanya memberikan pada 1 individu yang berprestasi. Proses “bisa umroh mengunjungi kabah dan beribadah sebagai sebuah takdir” keyakinan itu saya dapatkan pada pengalaman ini. Ketika mendapatkan undangan ini, pada awalnya saya oke karena saya lihat tanggal bisa tak ada agenda. Tetapi tiba-tiba ada kabar bahwa dimajukan di tanggal 5 November…. padahal tanggal 7 November saya ngisi acara ke Palembang. Acara seminar nasionalnya tentu gak bisa cancel lagi. Poster sudah tersebar dengan foto saya hehehe. Akhirnya saya bilang sama suami ya udah, kayaknya kalau tanggal itu gak mungkin bisa berangkat karena ada acara yang gak mungkin bisa saya batalkan. “What saya membatalkan umroh, demi memenuhi janji, galau iya saya juga waktu itu, tapi gak apalah saya pikir janji itu lebih penting” Setelah bertekad begitu, ternyata ada kabar lagi bahwa kepergian UMROH nya diundur sampai tanggal 19 November untuk memberi ruang bagi jamaah yang akan pergi mengurus paspor, karena ternyata tidak semua jamaah sudah punya paspor. Alhamdulillah, memang rezeki dan takdir Alloh akhirnya saya bisa ikut UMROH juga.

Nah, sampai di bandara Jeddah. Peserta umroh banyak dari Indonesia. Hal yang menarik saat di imigrasi bandar King Abdul Azis ini, waktu yang diperlukan untuk mengecek seseorang di imigrasi itu lama sekali, 10 menitan saya hitung. Tibalah giliran saya, petugasnya ngecek, kemudian dia tersenyum ramah, gak sampai 1 menit selesai, begitu juga suami. Saya amati dan saya wawancara jamaah yang lama “Umroh ini perjalanan ibu pertama kali ke luar negeri? Jawabannya YA. Yang cepat pemeriksaannya “Sudah pernah berangkat ke mana saja” Dari wawancara kecil saya sambil menunggu rombongan jamaah saya lengkap akhirnya saya memperoleh kesimpulan, “Apa yang menyebabkan durasi berbeda ini?” Ternyata “Bagi mereka yang sudah pernah berpergian ke luar negeri durasi pengecekannya lebih cepat dibanding yang baru pertama kali ke luar negeri melalui umroh ini

Itulah benefit yang didapatkan dari seringnya melakukan traveller ke luar negeri sebelum umroh. Kalau ada yang berazam melakukan traveler ke luar negeri setelah berhaji. Ini harus dipikirkan lagi deh! Ceritanya, Kami menekadkan diri Haji ketika melihat anak2 sudah tumbuh besar dan bisa ditinggal secara mandiri, karena haji ini memakan waktu 40 hari gak mungkin meninggalkan anak kecil ke tetangga. Akhirnya 2017 anak bungsu mau masuk SMA baru berani lunasi semuanya, dan itu memang saya nabung juga, kalau ada kelebihan dari ngisi-ngisi acara dan nulis buku saya tabung. Saya tak berani ambil dana talangan haji atau apapun namanya, karena saya pikir itu tadi, saya akan siap pergi kalau anak sudah besar. Ternyata ya waktu tunggu haji untuk Kota Bogor itu 15 tahun. Hoooooooo jadi pas saya daftar 2017 kemungkinan berangkatnya 2032 karena pandemik ini maka kemungkinan saya berangkat berarti 2034 pas tahun itu umur saya udah 63 tahun. Entahlah, sekali lagi… Haji ini juga rangkaian dari Takdir Alloh, kalau ternyata Alloh mempercepat, sebelum saya uzur dan banyak menyusahkan orang lain, itu lebih baik. Jadi yakin aja sama takdirNya. Untuk hal ini Saya tidak ‘ngoyo’. Yang belum dapat berhaji sampai tahun ini, juga semoga alloh menyehatkan dan menguatkan kita, menyampaikan usia kita sehingga bisa berhaji dengan sehat dań kuat.

Anak sebagai sumber investasi???? #ThinkAgain

Pagi ini saya baca diskusi di posting teman tentang REFLEKSI “haji”, ia menuliskan sebuah kisah:

“Seorang nenek berusia 70 tahun, sebagai IRT ia menggiring anak-anaknya hingga semua bisa sekolah dan dewasa, ibu dan nenek ini tak pernah meminta apapun dari anak-anaknya secara materi.  Ketika ditanya mengapa begitu, “Biarlah pahala membesarkan mereka akan diterima dengan utuh” lama hal itu berjalan, sampai suatu saat  ketika ekonomi anak-anaknya itu telah stabil, anak-anaknya tanpa janjian terlebih dahulu memberikan dana dengan jumlah yang bebeda-beda dan mengatakan pada ibu mereka agar dana itu dapat digunakan untuk naik haji”.  Si nenek bercerita pada ustadazah tempat pengajiannya, saya lihat cucu-cucu saya tumbuh dengan baik. sehat dan shaleh, tahun depan kelihatannya enak jika saya naik haji”

 

komentar yang berdasarkan sebuah kisah itu menyentak hati! Kenapa? karena kita sering menganggap anak sebagai sebuah investasi dan anak dikenai kewajiban “MULANG JASA” (BALAS BUDI).  Sebagai orang tua frame ini lekat sekali, sehingga si ortu menuntut anak untuk mengirimkan biaya bulanan sampai dengan tuntutan menghajikan, terkadang ortu tidak melihat bagian dalam si anak kalau ekonominya masih pas-pasan.  Dan ini kesalahan FATAL dari orang tua!!!

Kita sebagai ortu diamanahi anak-anak sebagai bagian ibadah kita kepada alloh swt, dan ketika kita berhasil membawa anak2 menuju kedewasaan dengan bekal ilmu yg mumpuni untuk hidup mandiri, maka pada saat itu amanah itu tertuntaskan, lalu siapa yang membayar semua pengorbanan harta, waktu, pikiran, dan tenaga untuk anak-anak kita??? BUKAN ANAK KITA YANG HARUS BAYAR, tetapi alloh swt saja yang bayar!

So, sebagai ORTU kita harus punya paradigma “ANAK ADALAH AMANAH ALLOH SWT, BUKAN OBJECT INVESTASI”

 

Rukun Islam dan multidimensional efek

Pernah berefleksi tidak, bahwa ternyata rukun islam itu punya efek besar tdk sekedar ruhiyah tapi juga ekonomi, sosial, bahkan budaya. Coba kita sadari:
1. Syahadat >> konsekuensi sbg muslim.  Secara verikal sdh tentu terikat pd perintahNya.  Konsekuensi ini akan berpengaruh pd budaya seseorg.  Seorg muslim hrs mau hidup dg budaya islam (pakaian, makanan, minuman, bahkan tidur pun ada aturan dlm islam yg ajan jadi budaya)

2. Shalat.  Selain dimensi vertikal/ruhiyah, juga menimbulkan dimensi sosial kemasyarakatan.  Apalagi dg tumbuhnya mesjid.

3. Zakat.  Ini lagi…jelas terlihat dimensi sosial humanisme selain dimensi vertikal.

4. Puasa, nah walaupun tujuannya sangat vertikal.  Tapi komersialisme romadhan membuat dimensinya bergeser ke ekonomi bisnis…apalagi dg penutup hari raya.

5.  Haji.  Ini yg plg terlihat dimensi ekonominya.  Haji tlh membuat arab  kaya raya dg devisa haji dan umrah.  Haji menggerakkan dimensi ekonomi mulai dari penjual tas, baju haji, oleh2 haji, katering, maskapai penerbangan sampai hotel dan penginapan.

Sungguh ibadah yg punya efek multidimensional….mensejahterakan dan menghumaniskan…manusia.