Virus paling berbahaya adalah…

Setelah galau memilih antara Cyber Security BINUS dan Matematika ITS, akhirnya Zaim memutuskan memilih Matematika ITS. Semua pilihan dan pertimbangan itu sepenuhnya diserahkan pada sang anak, karena dia yang akan menentukan masa depannya.

Kalau diminta ibunya memutuskan, sebagai seorang ibu, ya pastinya cenderung dia pilih Cyber Security BINUS. Kenapa? Di BINUS sebagai orang tua Saya tidak perlu susah memantau anak. Apa yang dikerjakan anak selama di Kampus terekam dengan rapi melalui aplikasi BINUS PARENT. Dan Saya tidak perlu khawatir anak saya “terjerumus aliran-aliran radikal seperti kelompok Tarbiyah PKS atau Hizbut Tahrir, atau aliran Ultranasionalisme yang dikembangkan Bapak Basith Dosen IPB, atau aliran Sosialisme Komunisme yang dikembangkan dibeberapa kampus. BINUS mempunyai program-program yang menjamin mahasiswa aktif dan fokus pada bidang profesionalnya. Lulusan-lulusan mengisi ranah-ranah pekerjaan yang sangat berguna meningkatkan ekonomi diri dan keluarganya bahkan berkontribusi pada ekonomi negara. Tidak pernah terdengar lulusan BINUS menjadi wartawan bodong atau LSM bodong laksana preman-preman yang memeras sekolah dan instansi pemerintah. Tidak pernah juga terdengar peserta 212 datang dari mahasiswa atau alumus BINUS.

Pada saat ini ada virus yang lebih berbahaya daripada virus covid19, yaitu virus kebodohan hasil cuci otak kelompok-kelompok ideologi. Saya sebagai alumnus S1 PTN dari TOP 5 UNIVERSITY sangat merasakan bagaimana virus ini masuk secara formal melalui mata pelajaran agama, kegiatan responsi agama, dan unit kegiatan kampus.

Pada tahun 90-an ada dua aliran transnasional yang dominan di PTN Umum, bertujuan ideologis Tarbiyah PKS berakar dari Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir ini merajai kampus-kampus sejak tahun 90-an. Pengalaman saya kuliah di IPB tahun 1990-an, kedua aliran ini membidik mahasiswa baru secara informal melalui tawaran kos-kosan di rumah binaan mereka, selanjutnya kakak kelas yang sudah terlebih dahulu tercuci otaknya seperti layaknya jualan MLM mereka aktif “mem-prosfek” adik-adik culun yang baru masuk. Adik-adik culun baru kenal dunia kampus yang sudah terprosfek ini lalu diacak DAURAH atau MABIT selanjutnya dikelompokan dałam satu kelompok terdiri dari 3-6 orang yang bernama kelompok LIQO [sebutan oleh ideologi Tarbiyah PKS] atau HALAQOH [sebutan oleh ideologi Hizb Tahrir/HTI], biasanya sengaja dikelompok sedaerah, dipilih kakak kelas sebagai tutor yang mereka sebut MUROBI [sebutan oleh ideologi Tarbiyah PKS] atau MUSYRIF/MUSYRIFAH [sebutan oleh ideologi HTI]. Dalam kelompok ini seminggu sekali diberikan materi-materi terkait keislaman, cek ibadah, tak lupa provokasi-provokasi yang makin membuat mereka menampakan identitas ‘keghurobaan’ dibandingkan mahasiswa lain yang tidak ikut mereka. Pada tahap ini, mahasiswi berubah berkerudung panjang, berjubah besar, tak jarang jadi bercadar. Mahasiswa berubah menundukan pandangan, memelihara jengot mencukur kumis, dan menggunakan celana di atas mata kaki alias cingkrang. Identitas seperti ini diperlukan oleh mereka untuk membedakan mana anggota kelompok mereka mana yang bukan. Selain identitas yang lebih terlihat adalah pemahaman atau pikiran mereka, apa saja pikiran mereka: 1) Melihat Indonesia dengan NKRI PANCASILA sebagai negara kafir atau negara thougut. 2) Tidak peduli lagi dengan perkuliahan, waktunya habis digunakan untuk belajar agama, ibadah, dan melakukan tugas dakwah. 3) Pandangan mereka berubah dari mengejar cita-cita mengabdi untuk nusa dan bangsa menjadi ‘Dakwah adalah poros kehidupan’. Jika cita-cita menghalangi dakwah, maka harus memilih dakwah dan membuang cita-cita. Jika ini sudah tertatanam maka semangat mencari ilmu sudah tidak ada lagi, para ukhti pikirannya dipenuhi dengan perjodohan dań menikah muda, adapun para akhwat HTI pikiran akan dipenuhi dengan memperbesar tubuh kutlah menghabiskan waktu untuk berdakwah dań menimba ilmu alat bahasa arab dan kajian kitab agama untuk memperkuat dakwah mereka menyebarkan ide Khilafah Tahririyah. Para akhi dan ikhwan tak jauh beda… atas nama KAMMI dan GEMA PEMBEBASAN mereka berebut menguasai SEMA DEMA BEM dan aktif demo-demo menghujat dan mengkritik pemerintah, tujuan dari demo bukan sekedar kritik konstruktif membangun negara, tetapi tujuan demo adalah MENGIKIS KEPERCAYAAN RAKYAT TERHADAP PEMERINTAH SAH. Rakyat yang sudah tidak percaya pada pemerintah kemudian mereka tawarkan solusinya yaitu “PILIHLAH ANGGOTA DEWAN DAN KEPALA DAERAH DARI PKS, GANTI SISTEM NKRI PANCASILA DENGAN KHILAFAH TAHRIRIYAH”

Fakta-fakta ini yang mendominasi kampus-kampus negeri di Indonesia pada tahun 90-an. Bagaimana perkembangannya setelah 2020 ini? Tampaknya belum berubah… Beberapa hari ini jagat twitter ramai dengan seorang Akhwat yang mengatakan Ideologi pancasila gagal mengatasi covid19 faktanya ….faktanya…faktanya….” selidik punya selidik, dia adalah mahasiswa dari sebuah PTN di Kalimantan Selatan yaitu UNLAM. Unggahan dari Mahasiswi bernama Andi Khairunnisa Aulia ini menjadi sebuah bukti bahwa jaringan ideologi islam transnasional sampai saat ini masih aktif melakukan upaya cuci otak pada mahasiwa terutama di PTN di bawah Kemendikbud.

Yang akan dihadapi oleh saya, sebagai ortu yang anaknya masuk PTN, saya harus menyadari bahwa yang akan dihadapi anak saya, sama dengan tahun 80-an. Pada saat ini kelompok ideologi transnasional ini dilarang keras, membuat mereka terpojok tidak lagi bisa menggunakan nama HTI tapi menggunakan nama lembaga-lembaga matel seperti “Komunitas Remaja Hebat” “Kominitas Ibu Hebat” ….. sama seperti tahun 80-an yaitu pada zaman Soeharto saat penataran P4 kuat sekali, mereka menggunakan lembaga mantel dengan nama Kemudi “kelompok Dakwah Muda Indonesia”. Pada tingkat mahasiswa di Kampus, dua lembaga informal yang harus diwaspadai adalah KAMMI bentukan Tarbiyah PKS dan untuk HTI ditingkat mahasiswa mungkin masih akan menggunakan lembaga mantel bernama Gema Pembebasan. Namanya berbeda-beda tidak pakai nama Hizbut Tahrir lagi tapi idenya tetap sama yaitu “mengecam NKRI Pancasila, berharap diganti dengan Khilafah Tahririyah yang diklaim sesuai syariat Islam”

Virus cuci otak dari kelompok ideologi ini jika sudah merasuk sangat dalam masuk ke dendrit-dendrit otak mahasiswa/i, kebahayaannya adalah disorientasi para mahasiswa. Pada PTN-PTN TOP mahasiswa Indonesia tak pernah ada yang bercita-cita meraih nobel, memecahkan rumus-rumus pelik yang berguna bagi perkembangan iptek, menciptakan inovasi-inovasi yang akan membantu hajat hidup orang banyak…… pemikiran mahasiswa/i yang sudah terjangkit virus ini adalah [dakwah menghujat ideologi pancasila dan pemerintah, diselingi dengan membanggakan kualitas ibadah dan hapalan mereka sebari mengajak, memaksa, bahkan membully orang2 untuk mengenakan celana cingkrang, kerudung dan jilbab yang sama dengan mereka dengan mengatakan “syari” “hijrah”].

Sebagai ortu tampaknya saya harus senantiasa cek dań recheck, ketika anak keterima di PTN, tugas monitoring anak menjadi bertambah…. pada dua kakaknya saya memonitoring perkembangan prestasi dan pilihan-pilihan pada masa depan mereka. Tapi tampaknya untuk anak yang keterima di PTN saya punya tugas bertambah:

1) Memberikan wawasan kebangsaan, bahwa NKRI Pancasila adalah hasil IJMAK ULAMA…. sebagai anak genetik NU Muhammadiyah, harus dipahamkan akan tugasnya sekarang bukan lagi berperang untuk kemerdekaan bahkan menruntuhkan ideologi pancasila. Masa perang itu udah usai, saatnya sebagai generasi muda mengisi kemerdekaan dengan fokus pada prestasi sesuai bidangnya.

2) Mengukuhkan orientasi masa depan. Masuk ke PTN itu berharap berkontribusi pada sains dan teknologi, bukan jadi pendakwah agama macam Felix Siaw…..tak pernah belajar banyak tentang agama islam alumnus pertanian tetiba jadi ustadz hanya karena belajar dengan HTI selama kuliah di IPB. Akibat yang ditimbulkan oleh ustadz2 instan yang belajar islam dari kelompok-kelompok dakwah ideologi adalah kesesatan dan kebodohan nyata pada umat. Jika memang mau belajar agama, mengapa gak masuk jurusan agama di UIN/IAIN? Mengapa masuk ke jurusan sains di PTN? Jika terlihat gelagat seperti ini, saya lebih baik meminta dia keluar dari ITS dan memasukkan ke pesantren Liboyo, dia belajar aja alif bingkeng dari 0.

3) Sejak SMP lalu SMA, Zaim punya kecenderungan aktif dalam organisasi OSIS, tidak menutup kemungkinan dia tertarik berkiprah di BEM kampus. Dan umumnya BEM kampus di PTN ini terkoneksi dengan organisasi luar kampus seperti Gema Pembebasan, KAMMI, HMI, KMNU, PMII dan lain-lain. Konon mayoritas BEM PTN saat ini terafiliasi dan binaan dari PKS dan HTI. Jika terikat pada HMI atau KMNU dan PMII tidak masalah garisnya masih NKRI Pancasila, tapi kalau terikatnya ke Gema Pembebasan dan HTI ini akan bahaya. Pintu masuk di PTN untuk masuk ke KAMMI dan Gema Pembebasan berawal dari pelajaran agama islam. Pelajaran agama islam diajarkan oleh dosen di kelas ditindaklanjuti oleh assisten dengan responsi atau mentoring agama inilah awal pintu masuknya. Para assisten ini akan memetakan pendekatan pada anak2 tingkat 1 sesuai potensi dan bakat anak, strategi politik KAMMI dan Gema Pembebasan memang seperti itu. Yang bisa saya lakukan adalah memonitoringnya, menekankan bahwa pelajaran agama ini membuat kita tahu apa yang dilarang apa yang dikerjakan dan beribadah lebih tekun tapi kalau sudah bahas tentang ‘gzowul fikri, palestina, dunia arab, politik indonesia’ mendingan dijauhi aja karena itu ciri-ciri dari Politisasi Islam. Akar masalah radikalisme di kampus-kampus negeri adalah dari matakuliah PAI yang mewajibkan mahasiswa tingkat 1 mengikuti mentoring atau responsi agama diasuh Assisten yang notabenenya adalah kakak kelasnya. Nah, sebagai ortu pada saat ini berharap PTN membenahi responsi dan assistensi agama islam itu suatu yang impossible.

母としてITSの大学に合格できた息子を見た時嬉しくて心配もあるんだけど頑張ります!